Kamis, 03 September 2020

Makna Mejauman atau Mepamit

Makna Mejauman atau Mepamit

MEJAUMAN BUKAN MEPAMIT UNTUK MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN LELUHUR DAN KELUARGA.

Mejauman, merupakan rangkaian dari pernikahan (pawiwahan) adat Hindu Bali yang sarat dengan makna.

Namun Mejauman belakangan ini telah mengalami "pergeseran makna menjadi Mepamit". Sehingga beberapa umat yang tidak memahami konsepnya akan menganggap Mejauman sebagai istilah baru berpamitan dan tidak boleh lagi datang ke rumah bajang.

Istilah Mepamit telah benar-benar merancukan makna dari Mejauman.

Kerancuan yang paling parah adalah ada beberapa kalangan yang benar-benar memutuskan hubungan pengantin predhana (biasanya perempuan) dengan keluarga maupun dengan leluhurnya. 

Hal itu biasanya terjadi akibat pihak keluarga pengantin purusha (biasanya laki-laki) menganggap dirinya memiliki kedudukan atau derajat yang lebih tinggi dari pihak keluarga pengantin pradhana.
 *Mejauman diubah menjadi Mepamit*

Semenjak proses Mepamit tersebut pengantin pradhana tidak lagi diizinkan sembahyang di Merajan bajangnya dan tidak dibolehkan lagi nyumbah kepada orang tuanya.

Ada lagi yang paling extreme, ketika prosesi Mejauman atau yang dirancukan menjadi Mepamit tersebut, pengantin purusha tidak mau ikut sembahyang di Merajan pengantin pradhana akibat terlalu fanatik terhadap kedudukan atau derajatnya.

Padahal dihadapan Tuhan tidak ada istilah tinggi rendah derajat atau kedudukan, semua yang terlahir ke dunia adalah sama.

Sama-sama lahir telanjang dan memiliki tujuan yang sama yaitu membayar hutang Karma.

Jika kita berada di Kabupaten Karangsem, istilah Mejauman identik dengan kata Nyongkol.

Sebenarnya apa makna dari Mejauman?

Mejauman memiliki nilai kesakralan yang sangat penting dalam pernikahan umat Hindu Bali, karena Mejauman merupakan simbol resminya pernikahan secara sekala dan niskala. 

Mejauman berasal dari akar kata “jaum” yang dalam Bahasa Indonesia-nya adalah “jarum”.

Jaum/jarum identik digunakan untuk merajut atau menjarit, dalam hal ini memiliki makna bahwa sebuah pernikahan harus dirajut, disatukan dan dirangkai. 

Yang menjadi harapan dari upacara Mejauman adalah terjadinya hubungan yang erat antara kedua belah pihak keluarga pengantin.

Selain itu Mejauman merupakan sebuah upacara yang memiliki makna sebagai bentuk puji syukur yang dihaturkan kepada Bhatara Guru dan para Leluhur dari pihak pengantin pradhana dan memohon doa restu agar rumah tangga sang pengantin selalu dilindungi dan diberkati.

Hal ini sesuai dengan Puja atau Sesontengan Pemangku ketika nganteb prosesi Mejauman tersebut:
“OM Ngastuti Pakulun Paduka Bhatara Guru, Bhatara Hyang, Bhatara Kawitan, Niki Sentanan Paduka Bhatara Sampun Puput Kawentening Yadnya Mabiyakala, Ipun Rauh Tangkil Nyakupan Tangan Sareng Kalih, Mangda Ledang Paduka Bhatara Guru, Bhatara Hyang, Bhatara Kawitan Nedunin Waranugraha, Mewastu Ipun Prasida Becik Ngemanggihang Karahayuan Kahuripan Ipun Makurenan, Mangdane Prasida Ngewentenin Putra Sane Suputra”

Dari makna Mejauman dan Puja/ Sesontengan tersebut, "tidak ada istilah Mepamit kepada leluhur" yang menyebabkan di kemudian hari tidak boleh lagi ngaturang sembah (sembahyang) di Merajan pihak pengantin pradhana.

Yang ada adalah semenjak resminya sebuah pernikahan, kedua mempelai wajib ngaturang sembah (sembahyang) di Merajan pihak pengantin pradhana, setidaknya pada waktu piodalan Merajan tersebut.

Pada penghujung acara Mejauman, pengantin pradhana akan mohon pamit kepada kedua orang tua dan sanak saudaranya, bahwa secara hukum dan adat pengantin pradhana telah resmi menjadi bagian keluarga dari pihak pengantin purusha.

Kata pamit inilah yang selama ini merancukan dan merubah pengertian upacara Mejauman di masyarakat, dan juga dimanfaatkan oleh Kaum Ego yang fanatik terhadap kedudukan dan derajatnya.

Sehingga semenjak selesainya upacara Mejauman tersebut pengantin pradhana benar-benar putus hubungan dengan sanak saudara bahkan dengan kedua orang tuanya.

Padahal hubungan seseorang dengan kedua orang tuanya tidak akan pernah dan tidak boleh terhapus oleh apapun juga.

Hal ini sering membuat dilema di kalangan pengantin pradhana yang menghadapi situasi tersebut, dimana bahkan ketika orang tuanya meninggal tidak diperbolehkan nyumbah (memberi penghormatan terakhir) kepada orang tuanya.

Padahal nyumbah pada waktu orang tua meninggal sangatlah penting, dimana sebagai bentuk bhakti dan terimakasih kepada orang tua. 

Ingatlah seburuk dan sejelek apapun orang tua kita, serendah apapun kedudukan dan derajatnya menurut orang, kita tidak akan pernah ada tanpa mereka.

Jadi Mejauman bukanlah Mepamit untuk memutuskan hubungan, baik hubungan terhadap Leluhur maupun hubungan terhadap orang tua, justru Mejauman adalah untuk merajut hubungan baik secara sekala dan niskala. 

Semenjak resminya sebuah pernikahan, maka kedua mempelai pengantin memiliki dua orang tua yang wajib diperhatikan yaitu:

Pertama orang tua di pihak Purusha dan kedua orang tua di pihak Pradhana.

Salam Rahayu
Semoga bermanfaat.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 Tempat Berbagi Informasi | All Right Reserved